jump to navigation

Kabut di Kaki Langit Slamet Januari 9, 2009

Posted by l3xy in Nyanyian Rimba.
Tags:
trackback

dsc00231Langkah kaki di setapak. Seirama dengan hembusan nafas yang terengah. Sengir aroma kabut bercampur dengan uap keringat tubuh ini. Degup jantung yang sibuk mengatur iramanya. Sesekali langkah terhenti. Diantara damar hutan gelap. Sesak udara yang terabaikan oleh keinginan hati akan ‘Sunrise”.

kabut yang berlari menuruni lereng bukit. Mengaisi setiap helai dedaunan. Langkahku kian tertatih diantara ranting yang patah. Nyanyian malam yang serak. Iringi semangat yang tersisa. Jalan ini terasa panjang dan terjal. Berat beban menambah semakin berliku.

Lambaian puncak yang berbatu, hilangkan lelahku. Hamparan edelwise yang mulai mekar. Pacu darah dalam nadiku. Puncakn sebentar lagi. Kabut masih di kaki langit. Berikan arti tersendiri untuk pendaki.

Kering pohon di Pelawangan. Tampilkan indahnya pagi. Matahari malu-malu bangun dari peraduan. Sinarnya diantara ranting yang mengering. Hangat kopi insani. dan aroma tembakau temani hati yang tersujud. Batu-batu yang terdiam. Seakan ikut bersimpuh akan keagungan-

Komentar»

No comments yet — be the first.