jump to navigation

Apa Salah atau Takut Tuhan? September 29, 2009

Posted by l3xy in Tak Berkategori.
1 comment so far

Pagi tadi aku masih melihat bungaku mekar. Daunnya hijau melambai di tiup angin. Kemarin aku masih melihat bulan bersinar sangat cerah. Cahayanya menerangi setiap sudut sisi jiwaku. Tadi pagi juga aku masih melihat langitku cerah, walaupun tidak sebiru kemarin. Tadi pagi aku juga masih mencumbu kabut yang sengar ku suka.

Rapi siang tadi kulihat bungaku dah jatuh. Daunnya tak hijau lagi di mataku. Bukan malam ini juga sendu kulihat. Cahaya tak cukup untuk menggantikan cahaya kemarin. Langitku sore ini dah gelap tanpa kabut yang menghiasinya.

Hambar lidah ketika makanan yang ku santap tanpa rasa. Sekian lama aku menunggu “kapan aku bisa merasakan lagi rasa itu, tapi setelah aku mulai merasakannya, Bunga itupun tercabut dariku. Apakah ini keadilan Tuhan?”

Ya, akan ku kejar sunriseku. Tapi sekarang sunrise yang aku harapkan sudah tertutup awan, tak secerah kemarin. Aku sadar dan sangat sadar kita hidup tidak sendiri ada aku, kamu, dia dan mereka. Tapi itu bukan sebuah ketakutan yang harus dibesarkan. Tidak ada yang salah dalam hal ini, aku hanya menyalahkan diriku sendiri kenapa aku tidak bisa menutup hatiku untuk orang lain seperti kamu? kenapa aku tidak mudah untuk mengucapkan maaf? kenapa tidak cukup kata-kata yang aku harapkan dari kamu? bukan ketakutan yang ingin aku dengar darimu?

Tapi kalau memang ternyata bulanku harus kelabu malam ini, bukan salah keputusan sudah diambil. Engkau hidup dengan egoismu, Engkau hidup dengan idemu, Engkau hidup dengan kemampuamu, Engkau hidup dengan dirimu, Engkau hidup dengan idealisme dan kamu berpikir itulah yang terbaik bagimu dan bagiku. Lain denganku!!!

ya, mungkin itu menurutmu. tapi menurutku lain. Tuhan belum adil untukku sekarang. Tuhan, kenapa engkau munculkan rasa ini kemudian engkau menghujamkan blati di dadaku, sehingga aku tidak merasakan sakit lagi karena itu lebih sakit daripada goresan belatiMu. Tuhan, kamu memang punya hak itu, Engkau berhak atasku. Tapi, perlu Engkau tahu Tuhan, aku adalah hambamu yang sedikit banyak membawa sifatMu.

Salahkah aku mengharapkan cerah mentari? takutkan mentari ketika masih memiliki Tuhan?

Lagi, Apakah aku selama ini menakutkan sebuah beban yang diberikan kepadaku Tuhan? apakah aku pernah merasa bahwa dia adalah beban bagiku? Apakah aku pernah meminta lepaskan dia dariku? apakah selama ini aku meminta untuk dijauhkan dariMu Tuhan? Apakah selama ini aku pernah meminta kepada selainMu?

Dosa, ya aku memang telah dikenalkan dosa oleh syetan. sehingga aku tahu bahwa ada sesuatu yang disukai Tuhan dan disukai syetan. Tapi ini bukan masalah pertentang Tuhan dan syetan.

salahkah aku menuliskan ini Tuhan?

Bahasa Tuhan Maret 6, 2009

Posted by l3xy in Curhat.
add a comment

capung2Aku dengar seorang teman bercerita tentang Penantian untuk seorang “son” selama 2,5 tahun. Aku juga mendengar kisah teman yang kemudian bercerai dengan istrinya setelah 6 tahun menjalankan perahu yang namanya “KELUARGA”. Kemarin aku mendengar seorang “45 tahun”, ibu, baru mendapatkan “orok” setelah 20 tahun lamanya menunggu dengan keputusasaan!. Aku sampai “merinding” mendengarnya.

“Jangan takut Lex!” kata temanku. Memang, bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Juga, bukan sesuatu yang menakutkan. Semuanya belum terjadi padaku. “Penantian” yang aku jalani sekarang berbeda dengan penantian yang mereka jalani. “Semuanya mungkin Lex”. Ya mungkin saja! Ringan aku menjawabnya. Ringan kata-kata seperti ringannya pikiran yang terpenuhi segala urusan yang membuatku lupa akan “kemungkinan” itu. Kemudian “dia” tertawa “Sebentar lagi aku punya anak. Anak yang merupakan penerus dari segala apa yang pernah aku impikan!”. Aku juga seorang anak. Anak yang akan meneruskan mimpi dari ayah ibuku. Anak yang telah membuat mereka bermandikan peluh darah. Ketika aku terbujur dalam kebuntuan “segalanya”.

“Engkau akan menjadi Bapak dari anak-anakmu tentunya!”. Engkau juga seorang anak yang sekarang bisa membuat anak dan juga akan bermandikan “keringat” untuk anakmu. Semua manusia adalah anak dari anak yang terbesarkan.

Aku mendengar seorang ibu harus “disayat” dua kali hanya untuk mendapatkan anak pertamanya setelah tiga kali “embrio”-nya mati sebelum tahu anak-anak yang membuatnya. Anak-anak yang belum mengerti “Bahasa Tuhan”. Bahasa yang tidak semuanya kita mengerti.

Plasma Nutfah Kebencianku Februari 17, 2009

Posted by l3xy in Curhat.
1 comment so far

Like MimosaKehidupan yang kita jalani seolah mimpi. Mimpi yang membuat kita terlena, tapi kadang membuat kita putus asa. Tapi disaat kita terbangun kita akan menyesal, “Kenapa hanya mimpi?” “Ah..syukurlah Cuma mimpi”. Sayangnya hidup bukanlah mimpi. Hidup adalah kenyataan untuk kita memilih. Memilih untuk membuat sebuah keputusan. Hendaklh keputusan diambil dengan bijak. Kenapa? Keputusan yang diambil bukanlah semata-semata kita ingin menghindar dari relaita polemic kehidupan yang datang dengan sendirinya. Keputusan seseorang bukan untuk menghindar dari sebuah masalah. Tapi, keputusan adalah untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Dalam realitanya kadang kita lupa akan akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang kita ambil. Padahal, keputusan yang diambil jelas melalui pemikiran yang matang bahkan Istikharah. Hati? Hati yang katanya memiliki mata hati yang tidak bisa berbohong, hati yang katanya tidak bisa berdusta.

Tapi dalam kehidupan yang kita jalani kadang hati bisa terbohongi oleh rasa yang muncul dengan tiba-tiba. Dan itulah yang menyebabkan kita dapat mengambil keputusan yang sangat fatal bagi orang lain. Keputusan yang kadang membuat ”Mandul” hati seseorang. “Ya Allah jika ia memang baik untukku, baik untuk penghidupanku dan baik untuk penghabisan nafasku ini……”. Ternyata Tuhan punya keputusan lain. “Aku adalah hukum bagi diriku sendiri” (Alit Ferdian, 2001). Sebuah ungkapan yang merupakan wujud pemberontakan, sebuah retorika yang membuat aku mengaguminya. Sebenarnya kalau diteliti lebih dalam lagi, kata-kata tersebut merupakan penyesalan akan kekecewaan. Tuhan yang dianggap bisa memberikan semuanya, tapi kenapa tidak memberikan apa yang ia inginkan.

“Aku rela bersekutu dengan syaitan yang terkutuk, kalau memang dapat menjadikan Indonesia Merdeka” (Ir. Soekarno). Sekilas kata-kata tersebut merupakan ungkapan dari patriotisme sejati yang menginginkan kemerdekaan bangsanya. Tapi, coba kita telaah lebih dalam lagi. Ternyata kata-kata Soekarno tersebut merupakan wujud kekecewaan. Teriakan seorang anak Indonesia kepada Tuhannya “Kenapa Engkau tidak memerdekan Indonesia dari Sekarang? Sehingga aku harus mengucapkan kata-kata yang kontraversial tersebut?”.

“Kegagalan adalah awal keberhasilan”. Sebuah kata-kata yang membangun semangat perjuangan. Ungkapan yang santun dan wujud kesabaran. Tapi, lagi-lagi ungkapan itu merupakan wujud kekecewaan. Ungkapan yang berisi alasan untuk menutupi kekurangan diri. Ungkapan tentang ketidakberpihakan Tuhan kepada kita. Ungkapan yang menunjukkan bahwa tidak semuanya dapat diberikan Tuhan kepada kita. Dan apakah kita sekarang masih percaya akan Tuhan? Sekali lagi aku diingatkan

Tuhan punya kehendak lain anakku”. Tapi content yang terkandung didalamnya aku tidak tahu? Kita adalah manusia biasa yang memiliki Cinta, tapi juga memiliki Benci. Ada seseorang yang tadinya benci akhirnya menjadi cinta. Tapi ada juga yang tadinya saling mencintai akhirnya saling membenci. Tapi ternyata belajar untuk mencintai dan belajar untuk membenci sama sukarnya. Sekarang, marilah kita sadari bahwa dasar dari sebuah benci adalah cinta. Kekecawan yang ada pasti akan berakhir dengan hati yang tersakiti.

Kita tidak usah menyombongkan diri bahwa kita bisa segalanya. Kita ada sekarang jelas peran dan campur tangan dari orang lain. Yang harus kita koreksi adalah apakah kita sudah sadar akan kebencian yang telah ditimbulkan oleh kita terhadap orang lain? Ada manusia yang tidak menghargai cinta, kemudian akan melahirkan kebencian. Dan ada sebagian orang yang dengan kebenciannya mampu bertahan hidup untuk dapat membuktikan bahwa dirinya pantas untuk dicintai. Ada juga manusia yang buta, bahwa dia sebenarnya sedang menjalani hidup dengan kebencian dari seseorang.

“Kekuatan Cinta”, “Maha Daya Cinta”, aku tidak percaya akan itu semua. Cinta yang aku kenal tidak sekuat yang sering dibincangkan orang dalam sela-sela makan malam. Cinta yang aku kenal merupakan bibit dari sebuah kebencian yang mendarah daging. Aku sekarang berusaha dan belajar untuk membenci, karena aku tidak bisa berusaha lagi untuk mencinta. Aku benci ketika hatiku mengatakan aku mencintainya. Aku juga benci ketika hati ini bisu untuk tidak mengatakan “Aku sangat membencimu”. Aku benci kenapa aku tidak bisa membalas perlakuan yang mengecewakan hati ini. Apakah hatiku terlalu lemah?

Cinta yang telah melahirkan benci dalam hatiku merupakan salah satu perpektif dari sebuah hubungan. Tuhan belum berpihak padaku sekarang, dan mudah-mudahan Tuhan juga bisa bersikap adil terhadap orang lain. Aku yakin suatu saat kebencianku ini akan menimbulkan dampak bagi orang lain. Dan untuk itu aku tidak peduli. Karena kebencianku ini muncul juga dari ketidakpedualian orang lain terhadap hatiku.

Kabut di Kaki Langit Slamet Januari 9, 2009

Posted by l3xy in Nyanyian Rimba.
Tags:
add a comment

dsc00231Langkah kaki di setapak. Seirama dengan hembusan nafas yang terengah. Sengir aroma kabut (lagi…)

SetoempoeK RinD03 Februari 9, 2008

Posted by l3xy in Suara Hati.
add a comment

Malam ini, ketika rongga dada terpenuhi oleh nafsuku. Kulabuhkan dalam tulisanku yang tak jelas artinya. Engkau yang dipingit dalam (lagi…)

Puisi Untuk Rembulan Januari 22, 2008

Posted by l3xy in Curhat.
add a comment

Ketika akhir malam di LPMP:

Rembulan muncul (lagi…)

Jari Yang Menari di Atas Peniti Januari 18, 2008

Posted by l3xy in Salinan Hati.
6 comments

Ini adalah tulisan pertamaku di lembar ini. Tiada yang pantas aku sampaikan untuk pertama kalinya selain ucapan “Assalamu’alaikum.(lagi…)