Kehidupan yang kita jalani seolah mimpi. Mimpi yang membuat kita terlena, tapi kadang membuat kita putus asa. Tapi disaat kita terbangun kita akan menyesal, “Kenapa hanya mimpi?” “Ah..syukurlah Cuma mimpi”. Sayangnya hidup bukanlah mimpi. Hidup adalah kenyataan untuk kita memilih. Memilih untuk membuat sebuah keputusan. Hendaklh keputusan diambil dengan bijak. Kenapa? Keputusan yang diambil bukanlah semata-semata kita ingin menghindar dari relaita polemic kehidupan yang datang dengan sendirinya. Keputusan seseorang bukan untuk menghindar dari sebuah masalah. Tapi, keputusan adalah untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Dalam realitanya kadang kita lupa akan akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang kita ambil. Padahal, keputusan yang diambil jelas melalui pemikiran yang matang bahkan Istikharah. Hati? Hati yang katanya memiliki mata hati yang tidak bisa berbohong, hati yang katanya tidak bisa berdusta.
Tapi dalam kehidupan yang kita jalani kadang hati bisa terbohongi oleh rasa yang muncul dengan tiba-tiba. Dan itulah yang menyebabkan kita dapat mengambil keputusan yang sangat fatal bagi orang lain. Keputusan yang kadang membuat ”Mandul” hati seseorang. “Ya Allah jika ia memang baik untukku, baik untuk penghidupanku dan baik untuk penghabisan nafasku ini……”. Ternyata Tuhan punya keputusan lain. “Aku adalah hukum bagi diriku sendiri” (Alit Ferdian, 2001). Sebuah ungkapan yang merupakan wujud pemberontakan, sebuah retorika yang membuat aku mengaguminya. Sebenarnya kalau diteliti lebih dalam lagi, kata-kata tersebut merupakan penyesalan akan kekecewaan. Tuhan yang dianggap bisa memberikan semuanya, tapi kenapa tidak memberikan apa yang ia inginkan.
“Aku rela bersekutu dengan syaitan yang terkutuk, kalau memang dapat menjadikan Indonesia Merdeka” (Ir. Soekarno). Sekilas kata-kata tersebut merupakan ungkapan dari patriotisme sejati yang menginginkan kemerdekaan bangsanya. Tapi, coba kita telaah lebih dalam lagi. Ternyata kata-kata Soekarno tersebut merupakan wujud kekecewaan. Teriakan seorang anak Indonesia kepada Tuhannya “Kenapa Engkau tidak memerdekan Indonesia dari Sekarang? Sehingga aku harus mengucapkan kata-kata yang kontraversial tersebut?”.
“Kegagalan adalah awal keberhasilan”. Sebuah kata-kata yang membangun semangat perjuangan. Ungkapan yang santun dan wujud kesabaran. Tapi, lagi-lagi ungkapan itu merupakan wujud kekecewaan. Ungkapan yang berisi alasan untuk menutupi kekurangan diri. Ungkapan tentang ketidakberpihakan Tuhan kepada kita. Ungkapan yang menunjukkan bahwa tidak semuanya dapat diberikan Tuhan kepada kita. Dan apakah kita sekarang masih percaya akan Tuhan? Sekali lagi aku diingatkan
“Tuhan punya kehendak lain anakku”. Tapi content yang terkandung didalamnya aku tidak tahu? Kita adalah manusia biasa yang memiliki Cinta, tapi juga memiliki Benci. Ada seseorang yang tadinya benci akhirnya menjadi cinta. Tapi ada juga yang tadinya saling mencintai akhirnya saling membenci. Tapi ternyata belajar untuk mencintai dan belajar untuk membenci sama sukarnya. Sekarang, marilah kita sadari bahwa dasar dari sebuah benci adalah cinta. Kekecawan yang ada pasti akan berakhir dengan hati yang tersakiti.
Kita tidak usah menyombongkan diri bahwa kita bisa segalanya. Kita ada sekarang jelas peran dan campur tangan dari orang lain. Yang harus kita koreksi adalah apakah kita sudah sadar akan kebencian yang telah ditimbulkan oleh kita terhadap orang lain? Ada manusia yang tidak menghargai cinta, kemudian akan melahirkan kebencian. Dan ada sebagian orang yang dengan kebenciannya mampu bertahan hidup untuk dapat membuktikan bahwa dirinya pantas untuk dicintai. Ada juga manusia yang buta, bahwa dia sebenarnya sedang menjalani hidup dengan kebencian dari seseorang.
“Kekuatan Cinta”, “Maha Daya Cinta”, aku tidak percaya akan itu semua. Cinta yang aku kenal tidak sekuat yang sering dibincangkan orang dalam sela-sela makan malam. Cinta yang aku kenal merupakan bibit dari sebuah kebencian yang mendarah daging. Aku sekarang berusaha dan belajar untuk membenci, karena aku tidak bisa berusaha lagi untuk mencinta. Aku benci ketika hatiku mengatakan aku mencintainya. Aku juga benci ketika hati ini bisu untuk tidak mengatakan “Aku sangat membencimu”. Aku benci kenapa aku tidak bisa membalas perlakuan yang mengecewakan hati ini. Apakah hatiku terlalu lemah?
Cinta yang telah melahirkan benci dalam hatiku merupakan salah satu perpektif dari sebuah hubungan. Tuhan belum berpihak padaku sekarang, dan mudah-mudahan Tuhan juga bisa bersikap adil terhadap orang lain. Aku yakin suatu saat kebencianku ini akan menimbulkan dampak bagi orang lain. Dan untuk itu aku tidak peduli. Karena kebencianku ini muncul juga dari ketidakpedualian orang lain terhadap hatiku.